Harga Gula Pasir Naik Sementara

Setelah persoalan daging dengan harga yang kian melambung kini masyarakat Indonesia dihadapkan pada persoalan gula dengan permasalahan yang tidak jauh beda. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Koordinator Perekonomian agar cepat melakukan langkah kongkret pada persoalan tahunan ini.

Pasalnya harga gula saat ini sudah mulai naik dari Rp8.800/kg menjadi Rp11.500/kg di pulau Jawa, harga di luar jawa Rp12.800/kg, dan daerah perbatasan Rp19.000/kg. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur mengatakan disparitas harga Jawa dan luar Jawa membuat harga gula tinggi.

“Jika kita lihat saat ini bulan Februari, sementara musim panen Mei, berarti ada ketidakcermatan pemerintah dalam menghitung neraca gula dan swasembada gula,” ungkapnya hari ini, Senin (11/2/2013).

Natsir menilai program ideal capacity pemberian impor raw sugar tidak efektif, lambat dan ada perusahaan yang justru tidak sanggup melaksanakan program tersebut. Sehingga membuka peluang terjadinya perembesan gula kristal rafinasi terutama pada daerah kawasan timur Indonesia.

“Lalu bagaimana masalah harga gula di daerah perbatasan yang sudah mencapai Rp19.000/kg, padahal bangsa Indonesia di daerah perbatasan ingin juga menikmati harga gula Rp8.000/kg, ini kan negara kesatuan republik indonesia (NKRI),” bebernya.

Pihaknya menyayangkan, Kementan, Kemenperin, Kemendag, dan Kemenko Perekonomian lebih menjaga harga gula di Jawa dibanding luar Jawa, sehingga disparitas harga sangat tinggi. “Lalu siapa bertanggung jawab terhadap disparitas harga yang tinggi ini, ini ritual tahunan yang sering berulang dengan penanganan panik dan ad hoc,” tegasnya.  Re-posted by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini.

SWA SEMBADA GULA 2014 MIMPI YANG DIHARAPKAN

Seorang pemimpi sering sering membayangkan mendapat hadiah mobil baru dari gebyar sebuah bank, meskipun dia tidak punya rekening di Bank tersebut, seorang pemimpi membayangkan akan menikahi wanita yang sangat cantik dari hadiah undian diluar negeri meskipun dia tidak pernah tahu beli kuponnya dimana, itulah seorang pemimpi dan adalah hak semua insan untuk bermimpi – semua memang berawal dari mimpi dan impian akan terwujud apabila kita berusaha memenuhinya di jalur mimpi yang kita mimpikan, bagaimana seorang mimpi menjadi dokter kalau kuliahnya dibidang ekonomi, bagaimana berminpi menjadi insinyur kalau kulihnya dibidang hukum.
Saya lebih senang dengan menggunakan bahasa mimpi dan impian , sementara cendekiawan dan politisi menggunakan istilah wacana tanpa rencana, inilah gambaran  mimpi indah yang sempat memukau segenap rakyat Indonesia:
Tahun
Pejabat
Target Swa Sembada
Kebijakan
2003
Rini Suwandhi
Memperindag
2007
Target swa sembada gula
06/06/03
KOMPAS
28/07/04
S Harapan
Bungaran Saragih
Menteri Pertanian
Bungaran Saragih
Menteri Pertanian
2007
2008
Tidak perlu pabrik baru
Perluasan areal sd 400.000 ha.
Mundur dari target awal 2007
29/7/04
S Harapan
Megawati
Presiden
2008
Mundur dari target awal 2007
28/10/05
Suar merr
Anton Apriantono
Menteri Pertanian
2009
Pembangunan pabrik baru
02/07/07
29/08/07
Antara
05/09/07
Antara
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
2009
2009
2009
Dibentuk TKPPG 1 juta ton pada
Tahun 2009
9 pabrik akan beroperasi 2009
4 milik BUMN yg lain swasta
Pabrik baru Jatim, Kalbar,Sumbar
2 lagi di Sulsel.
26/06/07
Anttara
Agus Pakpahan
Deputy Meneg BUMN
2009
4 PG baru 2009
28/07/07
Fahmi Idris
Menteri Perindustrian
Membangun Pabrik Gula Merah Putih (karya nasional).
19/01/08
Liputan 6
Yusuf Kalla
Wapres
2009
Menaikkan rendemen 2%
Revitalisasi pabrik lama dan tambah pabrik baru.

Semua diatas adalah mimpi mimpi indah tetapi harus berani menempuh jalan berliku untuk mencapainya, mimpi terakhir adalah “SWA SEMBADA GULA 2014”  yang kabarnya Departemen terkait sudah saling membuat dan menyusun Road Map untuk mencapainya, meskipun dapat diduga apabila di anggap rakyat adalah penonton , sudah bia menduga bahwa para pembuat mimpi akan lempar handuk.

Scenario pemimpi.
1. Membangun pabrik baru minimal 150.000 tcd.
Mungkin para pendahulu tidak pernah menceritakan bagaimana pabrik baru yang direncanakan oleh pakar pakar dan direalisasikan antara lain cot girek di Aceh , pelaihari di Kalimantan  keduanya mengalami ending yang menyedihkan, sementara beberapa lainnya menunjukkan performance yang menyedihkan.
2.Revitalisasi .
Dana revitalisasi tak kunjung turun kelihatan ada keraguan benarkah revitalisasi adalah obat manjur menuju swa sembada setelah  dilakukan program bongkar ratoon untuk perbaikan tanaman?
Pabrik kita memang tua tetapi kalau kita lihat laporan giling dari pol ampas, pol blotong dan angka angka pengenal lainnya semua baik-baik saja tidak ada yang salah .
SWA SEMBADA GULA INSYA ALLAH TERCAPAI
Dua kunci keberhasilan untuk menuju swa sembada gula:
1.Kunci Non Teknis
    a. KERJA KERAS ( kalau meneg BUMN KERJA, KERJA, KERJA)
    b. JUJUR.
    c. AMANAH.
2.Kunci teknis
Banyak kunci kunci teknis menuju keberhasilan swa sembada gula, tidak terlalu penting penambahan areal tanaman, tidak terlalu mendesak pabrik besar baru , dahulukan satu kunci yaitu:   “PERHATIKAN PETANI TEBU”
Kalau petani tebu karena alasan ekonomis mendapat keuntungan dan kenyamanan  dari budi daya menanam tebu maka pabrik gula tidak akan kekurangan pasokan tebu, kemitraan yang sesungguhnya adalah kejujuran dan transparansi, petani tebu adalah subyek dan bukan obyek, perkara teknisnya tentu para pemimpin tidak perlu diajari ibarat tidak perlu kita ajari bebek berenang – tidak perlu kita ajari tokek memanjat dinding.
AlternatifTidak ada salahnya untuk mencoba mengembangkan Pabrik Gula Mini, seperti yang telah dibuat juklak teknisnya untuk membangun satu unit kap 100 tcd di Rembang Jawa tengah.Perlunya pemikiran pengembangan bahan pemanis lain selain gula yang cukup potensal di Indonesia antara lain dari nira aren, kelapa dan siwalan.sumber: pabrikgulamini.blogspot.com Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini

PENGADAAN LAHAN SELUAS 300 RIBU HEKTAR OLEH 3 KEMENTRIAN

Pihak Kementerian Perindustrian bersama dengan Kementerian Pertanian mulai melakukan pembicaraan lebih lanjut mengenai pengadaan lahan sekitar 300.000 hektar sebagai upaya mendukung revitalisasi industri gula dan langkah nyata dalam program swasembada gula nasional 2014.

“Dalam rangka swasembada gula yang sudah terhambat lebih dari dua tahun, kita membutuhkan sekitar 300.000 hektar lahan yang sekarang ini coba direalisasi,” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di kantornya di Jakarta, Jumat.

Lahan tebu seluas 300.000 hektar yang diajukan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) itu rencananya terdiri dari 18 lokasi yang seluruhnya berada di luar Pulau Jawa, yakni Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

“Per lokasinya kurang lebih sekitar 20.000 hektar lahan dengan skema inti plasma agar masyarakat sekitar bisa ikut terlibat,” jelas Menperin.

Meski masalah gula sejatinya merupakan tugas Kementan, tetapi khusus upaya revitalisasi itu, Kemenperin beserta Badan Pertanahan Nasional (BPN) juga diikutsertakan karena dinilai masih memiliki keterkaitan satu sama lain.

Menperin optimistis, koordinasi restrukturisasi industri gula yang dilakukan bersama dengan Kementan dan BPN bisa direalisasikan dengan baik.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan berharap restrukturisasi industri gula itu bisa selesai sebelum 2014 karena perannya strategis untuk mencapai swasembada.

“Ini betul-betul strategis, kita bisa melakukan revitalisasi pabrik gula. Dengan kebutuhan lahan kira-kira 300.000 hektar, kita bisa mencapai swasembada,” katanya.

Wamentan juga mengungkapkan swasembada gula yang diharapkan pemerintah tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga industri dalam bentuk gula rafinasi.

“Sehingga upaya restrukturisasi gula ini menjadi isu yang sangat strategis,” ujarnya. Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini