Pamekasan: Tebu Pengganti Tembakau

Terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan yang diyakini bakal mematikan keberadaan petani tembakau, telah menjadi perhatian serius Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Agar petani tidak kehilangan mata pencaharian, Dishutbun mulai mengenalkan komoditas alternatif pengganti tembakau, yaitu tebu.

Langkah pertaman yang sebagai percontohan, pemerintah telah menanam tebu diatas lahan 3 hektar di wilayah Kecamatan Proppo.

Kepala Dishutbun Pamekasan, Ajib Abdulah, mengatakan, tanaman tebu lebih menjanjikan hasil yang maksimal dibandingkan tembakau.

Petani pun tidak perlu khawatir soal pemasaran karena tebu yang dihasilkan langsung dibeli oleh PT Perkebunan Nusantara X (Persero) yang akan membangun pabrik pengolahan tebu di Kabupaten Bangkalan.

“Untuk tahap pertama, kami mulai menanam tebu diatas lahan seluas 30 hektar di wilayah Kecamatan Proppo. Selanjutnya, kami masih meneliti wilayah kecamatan lain yang tanahnya cocok untuk tebu. Kedepan, komoditas tebu bakal menjadi pilihan setelah terbitnya PP Tembakau,” papar Ajib, Jumat (17/01/2013).

Pengenalan tebu sebagai komoditas alternatif tembakau, didukung sepenuhnya oleh Ketua Komisi B DPRD Pamekaksan, Hosnan Ahmadi. Politisi PAN itu, mengatakan, untuk jangka panjang komotitas tebu bisa menjadi andalan setelah tembakau. “Syukur-syukur, tebu telah memiliki pasar tersendiri. Yakni pabrik gula yang dikelola PTPN X,” ujarnya.

Dukungan lainnya datang dari Ketua Gabungan Pengusahan Rokok Madura (gaperma), Khairul Amam. Dia menilai saat ini tembakau sudah tidak bisa diandalkan. Harga jual tembakau selalu anjlok karena setiap tahun produksinya melebihi kebutuhan pabrik rokok. “Sudah saatnya, pemerintah mengenalkan komoditas alternatif selain tembakau kepada petani di Madura,” ujarnya. – Lensa Indonesia Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini

Produksi Gula Tahun 2013?

Asosiasi Gula Indonesia memperkirakan produksi gula tahun ini hanya akan mencapai 2,3 juta ton, lebih rendah dari target sebelumnya 2,5 juta ton. Colosewoko, Tenaga Ahli Asosiasi Gula Indonesia memprediksi jumlah produksi gula sampai Agustus mencapai 1,55 juta ton dari luas lahan yang telah dipanen sekitar 303 ribu hektare.

Dari sisa musim giling antara September sampai Oktober, sisa lahan yang akan menghasilkan adalah 150 ribu hektare. Produktivitas tebu diperkirakan 73 ton per hektare per tahun sementara rendemen sebesar 7,4%. Untuk itu,  dalam periode tersebut diperkirakan tambahan produksi gula hanya 700 ribu-800 ribu ton.

Rendahnya produksi  gula diakibatkan anomali iklim yang mengganggu pertumbuhan tanaman tebu. Colosewoko mengatakan iklim kering memberi dampak negatif terhadap tanaman seperti pertumbuhan kurang optimal, tanaman menjadi berbunga, dan kering.

Sebenarnya berdasarkan rapat taksasi Dewan Gula Indonesia pada Juli lalu, target  produksi gula telah diturunkan menjadi 2,5 juta ton dari target semula 2,7 juta ton  yang ditetapkan pada Maret. Penurunan ini dipengaruhi pengurangan produktivitas tebu menjadi 76,7 ton per hektare dan rendemen 7,4%. Dalam rapat taksasi Maret, pemerintah menargetkan produksi gula 2,7 juta ton akan tercapai dengan syarat produktivitas tebu mencapai 79,7 ton per hektare dan rendemen 7,57%.

Suswono, Menteri Pertanian, belum dapat berkomentar mengenai produksi gula tahun ini dengan alasan data masih dalam pembahasan Dewan Gula Indonesia. “Angkanya baru dapat dirilis setelah rapat tersebut,” ujar dia.

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia bahkan memperkirakan produksi gula tahun ini sebesar 2,1 juta ton, lebih rendah dari tahun lalu yang berjumlah 2,3 juta ton. M Nur Khabsyin, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi, mengatakan penurunan produksi ini disebabkan berkurangnya produktivitas tebu menjadi 60 ton-70 ton per hektare dibandingkan tahun lalu yang mencapai 80 ton-90 ton per hektare. Faktor cuaca menjadi penyebab utama yang membuat produksivitas gula tidak optimal.

Nur Khabsyin menjelaskan tingginya curah yang terjadi hingga masa musim giling Mei berdampak terhadap pertumbuhan tinggi tanaman. Selain itu, kualitas tebu menurun karena terlalu banyak kandungan air. Sementara, cuaca kering yang berlanjut sampai bulan ini membuat tebu kering dan berbunga. Kondisi inilah yang membuat berat tanaman turun.

Colosewoko mengatakan penurunan produksi gula tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di Brazil. Dari target awal sebesar 3,8 juta ton, diperkirakan produksi gula Brazil tahun ini hanya tercapai 3,4 juta ton.

Berdasarkan data Asosiasi Gula Indonesia, jumlah pabrik gula berbasis tebu lokal di Indonesia saat ini mencapai 62 pabrik. Dengan komposisi pabrik gula milik badan usaha milik negara berjumlah 50 unit dan 12 pabrik milik swasta. Aris Toharisman, Peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, mengatakan produksi gula dari 62 pabrik tersebut baru mencapai 2,3 juta ton dari kapasitas optimal yang sebesar 3,4 juta ton. Untuk mencapai swasembada gula nasional, butuh sepuluh pabrik baru dengan kapasitas produksi 150 ribu ton per hari yang  nilai investasinya mencapai Rp 15 triliun.

Lebih Besar

Berdasarkan roadmap, pemerintah memproyeksikan  produksi gula tahun depan mencapai lebih dari empat juta ton, lebih tinggi dari tahun ini. Namun, Colosewoko sebelumnya memprediksi target tersebut sulit tercapai jika tidak ada kenaikan luas lahan, rendemen, dan produktivitas gula.

Colosewoko berharap tahun depan luas perkebunan tebu bisa bertambah. Perbaikan iklim di 2012 berpotensi mendorong produksi gula.  Produktivitas tanaman tebu dapat di atas 80 ton per hektare dan tingkat rendemen bisa mencapai 8%.

Kembali ke [fancy_link link=”http://pabrikgulamini.com” variation=”orange”]HOME[/fancy_link]