PTPN 12 AKAN MENANAM TEBU

PTPN 12 Wilayah 2 Jember tetap ngotot untuk menanam tebu di areal Lapangan Terbang (Lapter) Notohadinegoro. Alasannya, penanaman akan dilakukan sampai lapter beroperasional.

Meskipun Komisi C DPRD Jember meminta agar PTPN membabat tanaman tebu yang ada di areal lapter.

Manajer PTPN 12 wilayah 2 Jember Irsan Rambee menyatakan, pihak PTPN 12 enggan untuk menebang tanaman tebu, karena lapter masih belum beroperasi. Jika nanti lapter akan beroperasi, maka pihaknya siap untuk menebangnya.

Ia katakan, tanaman tebu memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga, sebagai pemilik sangat manusiawi jika pihaknya keberatan dengan pembabatan tanaman itu. Apalagi Lapter Notohadinegoro masih belum akan beroperasi, sehingga keberadaan tanaman itu tidak akan mengganggu.

“Tapi jika lapter akan dioperasikan lagi, kami siap untuk menebangnya,” ujarnya.

Sementara, sejumlah fraksi di DPRD Jember mendorong pembentukan Panitia Khusus (Pansus) terkait persoalan Lapter Notohadinegoro.

Beberapa fraksi yang menyerukan pembentukan pansus itu, yakni Fraksi Demokrasi Perjuangan Indonesia Raya dan Fraksi Kebangkitan Nasional Ulama.

Ketua Fraksi Kebangkitan Nasional Ulama DPRD Jember, Marduwan menyatakan, fraksinya sepakat jika persoalan penanaman tebu di areal lapter itu di pansuskan. Pasalnya, selama ini tidak ada pendapatan yang masuk ke Kas Daerah atas penanaman itu.

Namun demikian di dalam pansus nantinya, FKNU berharap persoalan status lahan dapat menjadi terang. “Karena ini biar jelas, status lahan itu, tidak seperti saat ini, sama-sama merasa memiliki,” katanya.

Ketua Fraksi Demokrasi Perjuangan Indonesia Raya DPRD Jember, Bukri menjelaskan, fraksinya berpandangan jika persoalan status lahan lapter itu harus dikuak.

Dia berpandangan bahwa persoalan penanaman tebu hanyalah sekelumit masalah dari persoalan lahan. Dia berharap nantinya jika di pansuskan, maka persoalan HGU atas tanah lapter dapat segera diselesaikan. Re-Published by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini.

INDUSTRI GULA: MADURA MENJADI PULAU TEBU

PULAU Madura, Jawa Timur, yang selama ini dijuluki Pulau Garam berpeluang memperoleh julukan baru sebagai Pulau Tebu.

Hal itu dikarenakan lahan di pulau yang memiliki 4 kabupaten (Kab. Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) itu terbukti cocok dioptimalkan untuk budidaya tebu.

Potensi tersebut telah dimanfaatkan PT Perkebunan Nusantara X (Persero) dengan membudidayakan tebu seluas 200 hektare pada musim tanam 2012 – 2013. BUMN pengelola 11 pabrik gula (PG) itu pada 2013 – 2014 akan memperluas lagi menjadi 1.000 hektare di Kab. Bangkalan dan Kab. Sampang.

Langkah tersebut didukung Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan, Jawa Timur, melalui penyediaan sejumlah varietas tebu sesuai kondisi lahan dan iklim di Madura.

P3GI sejak 1980-an telah melakukan ujicoba penanaman tebu di Madura dan penelitian kelayakan Pabrik Gula Mini. Tetapi pengiriman hasil tebangan tebu ke PG di Jawa Timur daratan a.l. di Kab. Sidoarjo atau Kab. Pasuruan terkendala transportasi sebab harus menyeberang Selat Madura. Selain biayanya mahal, keterlambatan tiba di PG bisa berdampak menurunnya rendemen tebu.

Kini kendala transportasi telah teratasi dengan terbangunnya jembatan Surabaya – Madura (Suramadu), sehingga truk bisa lebih lancar mengangkut tebu ke pabrik gula mini atau pabrik gula bumn terdekat.

Berdasarkan penelitian P3GI, potensi lahan tebu di Madura mencapai 100.000 hektare lebih dari areal pulau tersebut seluas 447.598 hektare.

Apabila potensi tersebut kelak dapat dimanfaatkan seluruhnya, maka areal tebu jauh lebih luas dibandingkan dengan areal ladang garam.

Data Himpunan Masyarakat Petani Garam Indonesia (HMPGI) Jatim menunjukkan areal garam rakyat di 4 kabupaten di Madura 7.700 ha (Sumenep 2.100 ha, Pamekasan 1.200 ha, Sampang 4.200 ha dan Bangkalan 200 ha).

Ditambah areal milik PT Garam (Persero) sekitar 5.000 hektare (sebagian besar di Kab. Sumenep), maka total ladang garam di Madura 12.700 hektare.

Layak dikembangkan
Direktur P3GI Aries Toharisman menyebutkan potensi lahan tebu di Madura mencapai 100.000 hektare lebih. Potensi tersebut layak dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan bahan baku PG, menyusul kian menyempitnya lahan tebu di Jatim daratan akibat beralih fungsi untuk pemukiman, pabrik maupun infrastruktur.

“Kami telah menyiapkan sejumlah varietas tebu yang cocok dibudidayakan di Madura yang tanahnya mengandung kadar garam tinggi,” ujarnya, belum lama ini.

Varietas tebu yang dirakit P3GI untuk kawasan tersebut antara lain PSJT 941, PS 862, PS 881, PS 864, PSJK 922. Varietas tersebut merupakan bagian dari puluhan varietas yang dirilis instansi tersebut sejak beberapa tahun terakhir.

Adapun volume bibit tebu yang diproduksi P3GI tahun ini ditargetkan 100 juta mata terdiri 20 varietas, setelah pada 2012 merealisasikan produksi 25 juta mata berupa 15 varietas untuk memenuhi kebutuhan industri gula dan petani tebu. Setiap hektare lahan butuh 25.000 – 30.000 mata bibit tebu.

Bibit tebu rakitan P3GI telah dibudidayakan para petani di Madura, diantaranya oleh Nawawi di areal 3 hektare di Desa Temoran, Kab. Sampang.

Lelaki yang semula menanam kacang, padi dan jagung, itu memperoleh pinjaman modal Rp16 juta per hektare lahan tebu dari PTPN X. Dijadwalkan pertengahan tahun ini panen.

“Lahan kami sebelumnya merupakan lahan tidur, setelah pembudidayaan tanaman pangan kurang menguntungkan akibat sering gagal panen. Ternyata lahan ini dapat ditanami tebu,” tuturnya, belum lama ini.

Nawawi memanfaatkan sumur bor untuk mengairi tanaman tebu, karena tidak ada irigasi. Dia berharap bisa memperoleh keuntungan, karena PTPN X menjamin penyerapan hasil tebangan tebu.

Data yang diperoleh Bisnis di PTPN X menunjukkan rata-rata produksi tebu di wilayah kerja BUMN tersebut 84 ton/hektare, dengan rendemen 8,14%. Keuntungan petani berkisar Rp10 – Rp15 juta/hektare.

Subiyono, Direktur Utama PTPN X, menyebutkan pihaknya mengandalkan lahan di Madura untuk memenuhi kecukupan bahan baku pabrik gula (PG) milik BUMN tersebut, terutama PG berlokasi di Kab. Sidoarjo. Di kabupaten tersebut PTPN X mengoperasikan PG Toelangan dan PG Kremboong dan PG Watoe Toelis.

Menurutnya, langkah tersebut terkait peningkatan produksi gula yang ditargetkan naik menjadi 538.000 ton tahun ini, setelah pada 2012 terealisasi 494.000 ton dari 11 PG.

Tahun lalu tebu yang digiling PTPN X mencapai 6,072 juta ton, dan tahun ini –yang musim gilingnya dijadualkan mulai Mei mendatang—tentu lebih tinggi lagi.

“Kami siap memperluas pengembangan tanaman tebu di Madura menjadi 1.000 hektare pada musim tanam 2013 – 2014 di Bangkalan dan Sampang, setelah dalam musim tanam 2012 – 2013 menanam 200 hektare. Sebagian besar lahan tidur,” ujarnya, belum lama ini.

Untuk memenuhi kebutuhan bibit bagi petani, PTPN X menyediakan kebun bibit seluas 64 hektare di Madura dengan tujuh jenis tebu hasil rakitan P3GI.

Modal tanam petani dipasok dana pinjaman dari program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL), di mana PTPN X tahun ini menyiapkan Rp550 miliar. Pengembalian pinjaman petani langsung dipotong setelah tebu digiling di pabrik gula.

Saling menguntungkan
Kini banyak petani di Kab. Bangkalan dan Kab. Sampang tertarik membudidayakan tebu, setelah tanaman berbatang manis itu terbukti dapat tumbuh bagus di kawasan tersebut.

Sebagai contoh, Umar HS, asal Temoran, Kab. Sampang, akan mengikuti jejak petani lain di desa tersebut membudidayakan tebu.

Dia meyakini tanaman itu bisa menguntungkan, setelah aneka tanaman pangan yang dibudidayakan di lahan kering miliknya tidak memberikan hasil bagus. “Kami menggunakan pupuk kompos, agar tebu tumbuh bagus” paparnya.

Pembudidayaan tebu di Madura agaknya dapat berlangsung saling menguntungkan. Di satu pihak PTPN X mendapatkan tambahan pasokan bahan baku tebu guna mendongkrak produksi gula. Di pihak lain, bisa meningkatkan perekonomian petani di pulau tersebut.

Pendapatan petani lebih terjamin, karena ada kepastian penjualan ke pabrik gula dengan harga disepakati bersama. Selain itu, ada sistem bagi hasil gula yakni 66% bagian petani dan 34% merupakan ongkos giling pabrik gula.

Sementara harga jual komoditas lain, terutama tembakau, yang banyak dibudidayakan petani di Madura, sangat fluktuatif dan sering membuat petani rugi. Karena itu, di masa mendatang bukan mustahil Madura akan menjadi Pulau Tebu. update by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini.

Panen Tebu di Jogjakarta Meningkat 30 Persen

Hasil panenan tebu di wilayah Provinsi DIY sepanjang 2012 lalu, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pada 2012, rata-rata produksi mencapai 660 kuintal per hektar. Sedangkan tahun 2011 sebesar 525 kuintal.

“Ada kenaikan sekitar 30 persen. Peningkatan ini karena kondisi iklim yang mendukung,” ungkap Direktur Pabrik Gula Madukismo, Rahmad Edi Cahyono disela kunjungan ke lahan tebu Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kalasan, Kamis (17/1).

Untuk masa tanam kali ini, pihaknya meminta petani waspada terhadap serangan hama uret. Apalagi jika musim hujan masih terus berlangsung sampai bulan April.

Kepala Dinas Kehutanan DIY, Muhammad Dawam menyebutkan, saat di Sleman terdapat 1.300 hektar luasan lahan tebu tersebar di beberapa kecamatan.

Lahan paling luas ada di Kecamatan Kalasan yakni 210 hektar, disusul Godean 140 hektar. Area itu masih berpotensi ditambah, terutama pada lahan yang kurang produktif untuk ditanami padi.

Dalam kunjungan itu, Direktur PG Madukismo dan Kepala Dinas Kehutanan mendampingi Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam IX. Ikut serta pula Bupati Sleman, Sri Purnomo, dan Camat Kalasan, Samsul Bahri.

Selain Kedulan, Wagub juga mengunjungi lokasi penanaman tebu di Dusun Grenjeng, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan. Dalam kesempatan tatap muka dengan petani, Paku Alam meminta mereka lebih giat menggarap perkebunan tebu.

Mengingat, hasil dari komoditi ini mampu membawa kesejahteraan lebih baik bagi petani.

“Nilai dari perkebunan tebu lebih besar dibanding dengan budidaya komoditas lain yang hampir serupa,” katanya.

Kepala Desa Tirtomartani, Sriyanto sekaligus ketua kelompok petani tebu Ngudi Rejeki memaparkan, kelompoknya kini mengelola area tebu seluas 25 hektar yang sebagian merupakan tanah kas desa.

Lahan digarap oleh 15 orang anggota. Hasil dari kegiatan perkebunan ini diakui cukup lumayan. Gambarannya, selama satu musim tanam dapat menghasilkan keuntungan Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. -Suara Merdeka- Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini