Tahun 2015 Gula Nasional Semakin Sulit Bersaing

Industri gula nasional saat ini sulit untuk bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, khususnya dengan Thailand, kata Ketua Umum Ikatan Ahli Gula Indonesia Subiyono. “Indonesia masih tertinggal jauh dari Thailand. Thailand kini menjadi salah satu eksporter gula dunia, sedangkan Indonesia masih menjadi importer,” katanya di Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta, Kamis (17/4).

Di sela seminar “Penguatan Posisi Bisnis dan Kemitraan Pabrik Gula Menuju Industri Berbasis Tebu”, ia mengatakan Thailand mampu memproduksi gula 10,61 juta ton per tahun, sedangkan Indonesia hanya mampu memproduksi 2,55 juta ton per tahun.

“Thailand mampu mengekspor gula ke berbagai negara sebanyak delapan juta ton per tahun, yang 30 persen di antaranya diekspor ke Indonesia,” katanya. Menurut dia, selama ini konsumsi gula di Indonesia sekitar tiga juta ton per tahun, sedangkan produksi gula nasional hanya berkisar 2,5-2,7 juta ton per tahun sehingga masih mengimpor 300-500 ribu ton. “Padahal, jumlah pabrik gula Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan pabrik gula Thailand. Indonesia memiliki 62 pabrik gula, sedangkan Thailand hanya memiliki 50 pabrik gula,” katanya.

Ia mengatakan 50 pabrik gula di Thailand tersebut memiliki kapasitas 940.000 TCD (ton tebu per hari), sedangkan Indonesia yang memiliki 62 pabrik gula, kapasitasnya hanya sekitar 205.000 TCD. Rendemen di Thailand mencapai 11,82 persen, sedangkan Indonesia hanya 7,18 persen. Bicara tentang rendemen diatas 9% di Indonesia masih menjadi hal yang tabu, padahal di negara-negara penghasil gula lainnya (Brazil, India, Thailand, dst) Rendemen diatas 11 % adalah hal yang biasa.

“Lahan tanaman tebu Indonesia juga kalah luas dibandingkan dengan Thailand. Thailand memiliki luas lahan tanaman tebu 1,35 juta hektare, sedangkan Indonesia hanya memiliki luas lahan 469 ribu hektare dan kebanyakan di Pulau Jawa,” katanya.

Menurut dia, jika hal itu tidak segera diatasi maka Indonesia tetap akan menjadi importer gula terbesar ketiga dunia seperti yang sudah berlangsung sejak beberapa dekade terakhir.

“Strategi terpadu untuk mengatasi persoalan tersebut antara lain efisiensi, optimalisasi, dan diversifikasi. Ketiga strategi tersebut harus dipandang sebgaia suatau rangkaian yang terpadu,” katanya.

Ia mengatakan untuk bisa menjalankan diversifikasi maka efisiensi dan optimalisasi giling mutlak harus tercapai terlebih dahulu. “Contohnya, kelayakan proyek ethanol, apalagi ‘cogeneration’, akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan kelebihan ampas, sedangkan kelebihan ampas merupakan hasil dari upaya efisiensi dan optimalisasi,” katanya.

Pamekasan: Tebu Pengganti Tembakau

Terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan yang diyakini bakal mematikan keberadaan petani tembakau, telah menjadi perhatian serius Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Agar petani tidak kehilangan mata pencaharian, Dishutbun mulai mengenalkan komoditas alternatif pengganti tembakau, yaitu tebu.

Langkah pertaman yang sebagai percontohan, pemerintah telah menanam tebu diatas lahan 3 hektar di wilayah Kecamatan Proppo.

Kepala Dishutbun Pamekasan, Ajib Abdulah, mengatakan, tanaman tebu lebih menjanjikan hasil yang maksimal dibandingkan tembakau.

Petani pun tidak perlu khawatir soal pemasaran karena tebu yang dihasilkan langsung dibeli oleh PT Perkebunan Nusantara X (Persero) yang akan membangun pabrik pengolahan tebu di Kabupaten Bangkalan.

“Untuk tahap pertama, kami mulai menanam tebu diatas lahan seluas 30 hektar di wilayah Kecamatan Proppo. Selanjutnya, kami masih meneliti wilayah kecamatan lain yang tanahnya cocok untuk tebu. Kedepan, komoditas tebu bakal menjadi pilihan setelah terbitnya PP Tembakau,” papar Ajib, Jumat (17/01/2013).

Pengenalan tebu sebagai komoditas alternatif tembakau, didukung sepenuhnya oleh Ketua Komisi B DPRD Pamekaksan, Hosnan Ahmadi. Politisi PAN itu, mengatakan, untuk jangka panjang komotitas tebu bisa menjadi andalan setelah tembakau. “Syukur-syukur, tebu telah memiliki pasar tersendiri. Yakni pabrik gula yang dikelola PTPN X,” ujarnya.

Dukungan lainnya datang dari Ketua Gabungan Pengusahan Rokok Madura (gaperma), Khairul Amam. Dia menilai saat ini tembakau sudah tidak bisa diandalkan. Harga jual tembakau selalu anjlok karena setiap tahun produksinya melebihi kebutuhan pabrik rokok. “Sudah saatnya, pemerintah mengenalkan komoditas alternatif selain tembakau kepada petani di Madura,” ujarnya. – Lensa Indonesia Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini

SWA SEMBADA GULA 2014 MIMPI YANG DIHARAPKAN

Seorang pemimpi sering sering membayangkan mendapat hadiah mobil baru dari gebyar sebuah bank, meskipun dia tidak punya rekening di Bank tersebut, seorang pemimpi membayangkan akan menikahi wanita yang sangat cantik dari hadiah undian diluar negeri meskipun dia tidak pernah tahu beli kuponnya dimana, itulah seorang pemimpi dan adalah hak semua insan untuk bermimpi – semua memang berawal dari mimpi dan impian akan terwujud apabila kita berusaha memenuhinya di jalur mimpi yang kita mimpikan, bagaimana seorang mimpi menjadi dokter kalau kuliahnya dibidang ekonomi, bagaimana berminpi menjadi insinyur kalau kulihnya dibidang hukum.
Saya lebih senang dengan menggunakan bahasa mimpi dan impian , sementara cendekiawan dan politisi menggunakan istilah wacana tanpa rencana, inilah gambaran  mimpi indah yang sempat memukau segenap rakyat Indonesia:
Tahun
Pejabat
Target Swa Sembada
Kebijakan
2003
Rini Suwandhi
Memperindag
2007
Target swa sembada gula
06/06/03
KOMPAS
28/07/04
S Harapan
Bungaran Saragih
Menteri Pertanian
Bungaran Saragih
Menteri Pertanian
2007
2008
Tidak perlu pabrik baru
Perluasan areal sd 400.000 ha.
Mundur dari target awal 2007
29/7/04
S Harapan
Megawati
Presiden
2008
Mundur dari target awal 2007
28/10/05
Suar merr
Anton Apriantono
Menteri Pertanian
2009
Pembangunan pabrik baru
02/07/07
29/08/07
Antara
05/09/07
Antara
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
2009
2009
2009
Dibentuk TKPPG 1 juta ton pada
Tahun 2009
9 pabrik akan beroperasi 2009
4 milik BUMN yg lain swasta
Pabrik baru Jatim, Kalbar,Sumbar
2 lagi di Sulsel.
26/06/07
Anttara
Agus Pakpahan
Deputy Meneg BUMN
2009
4 PG baru 2009
28/07/07
Fahmi Idris
Menteri Perindustrian
Membangun Pabrik Gula Merah Putih (karya nasional).
19/01/08
Liputan 6
Yusuf Kalla
Wapres
2009
Menaikkan rendemen 2%
Revitalisasi pabrik lama dan tambah pabrik baru.

Semua diatas adalah mimpi mimpi indah tetapi harus berani menempuh jalan berliku untuk mencapainya, mimpi terakhir adalah “SWA SEMBADA GULA 2014”  yang kabarnya Departemen terkait sudah saling membuat dan menyusun Road Map untuk mencapainya, meskipun dapat diduga apabila di anggap rakyat adalah penonton , sudah bia menduga bahwa para pembuat mimpi akan lempar handuk.

Scenario pemimpi.
1. Membangun pabrik baru minimal 150.000 tcd.
Mungkin para pendahulu tidak pernah menceritakan bagaimana pabrik baru yang direncanakan oleh pakar pakar dan direalisasikan antara lain cot girek di Aceh , pelaihari di Kalimantan  keduanya mengalami ending yang menyedihkan, sementara beberapa lainnya menunjukkan performance yang menyedihkan.
2.Revitalisasi .
Dana revitalisasi tak kunjung turun kelihatan ada keraguan benarkah revitalisasi adalah obat manjur menuju swa sembada setelah  dilakukan program bongkar ratoon untuk perbaikan tanaman?
Pabrik kita memang tua tetapi kalau kita lihat laporan giling dari pol ampas, pol blotong dan angka angka pengenal lainnya semua baik-baik saja tidak ada yang salah .
SWA SEMBADA GULA INSYA ALLAH TERCAPAI
Dua kunci keberhasilan untuk menuju swa sembada gula:
1.Kunci Non Teknis
    a. KERJA KERAS ( kalau meneg BUMN KERJA, KERJA, KERJA)
    b. JUJUR.
    c. AMANAH.
2.Kunci teknis
Banyak kunci kunci teknis menuju keberhasilan swa sembada gula, tidak terlalu penting penambahan areal tanaman, tidak terlalu mendesak pabrik besar baru , dahulukan satu kunci yaitu:   “PERHATIKAN PETANI TEBU”
Kalau petani tebu karena alasan ekonomis mendapat keuntungan dan kenyamanan  dari budi daya menanam tebu maka pabrik gula tidak akan kekurangan pasokan tebu, kemitraan yang sesungguhnya adalah kejujuran dan transparansi, petani tebu adalah subyek dan bukan obyek, perkara teknisnya tentu para pemimpin tidak perlu diajari ibarat tidak perlu kita ajari bebek berenang – tidak perlu kita ajari tokek memanjat dinding.
AlternatifTidak ada salahnya untuk mencoba mengembangkan Pabrik Gula Mini, seperti yang telah dibuat juklak teknisnya untuk membangun satu unit kap 100 tcd di Rembang Jawa tengah.Perlunya pemikiran pengembangan bahan pemanis lain selain gula yang cukup potensal di Indonesia antara lain dari nira aren, kelapa dan siwalan.sumber: pabrikgulamini.blogspot.com Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini