Harga Gula Berpihak Kepada Siapa? Petani Tebu?

Harga pokok penjualan (HPP) di tingkat petani pada 2013 harus memihak petani untuk memotivasi agar tetap menanam tebu. Jika HPP rendah, petani memilih komoditas lain untuk ditanam karena dinilai lebih menguntungkan.

Ketua Umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) Subiyono di Surabaya, Rabu (3/4/2013), mengatakan, pemihakan dari sisi harga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan minat petani berbudidaya tebu. Sebab, realita di Pulau Jawa daya saing tebu merosot karena kalah bersaing dengan komoditas lain, terutama padi.

Apalagi tanaman tebu memiliki jangka waktu imbal hasil investasi yang lebih lama satu tahun dibanding padi. Keuntungan per unit areal per bulan tanaman tebu lebih rendah dibanding padi. Hasil panen padi juga bisa disimpan untuk cadangan rumah tangga jika tak laku dijual pada musim panen.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil mengatakan, untuk menggerakkan petani tetap menanam tebu paling utama tidak pada HPP, tetapi pada rendemen atau kadar gula dalam tebu. “Berapapun HPP yang akan ditetapkan oleh pemerintah tidak akan dipersoalkan oleh petani jika rendemen tak kurang dari 10 persen,” katanya.

Memang tahun ini Dewan Gula Indonesia (DGI) mengusulkan HPP Rp 8.900 per kilogram, dan kemungkinan ditetapkan oleh pemerintah pada angka Rp 8.500 per kilogram. “HPP bukan yang utama bagi petani untuk meningkatkan margin dari menanam tebu, tapi justru rendemen yang selama ini maksimal 8 persen dan umumnya di bawah 8 persen, sehingga petani tebu makin tergerus,” ujar Arum Sabil.

Subiyono menambahkan, dalam banyak kasus di Pulau Jawa, petani lebih memilih menanam tebu yang melebihi umur teknis, atau di atas 3 kali keprasan. Meski produktivitasnya menurun, langkah ini lebih murah bagi petani. “Jadi selain perbaikan HPP, diperlukan insentif bagi petani yang bersedia menanam tebu pada lahan sawah baru. Program bongkar ratoon dengan memberi bibit baru perlu didorong untuk mengerek produktivitas,” ujar Direktur Utama PTPN X ini.

Perlu dibangun pola kemitraan yang sinergis antara pabrik gula dan petani, terutama transparansi rendemen agar kepercayaan petani ke PG meningkat, dan pasokan tebu terjamin. Transparansi penentuan rendemen harus dilakukan dengan alat berbasis mesin agar tidak ada lagi kecurigaan tingkat rendemen dicurangi PG. Apalagi pengelolaan industri gula khususnya di Jawa masih terpisah usaha tani dan PG, karena semua PG di Jawa tidak mempunyai lahan sendiri dalam skala luas. Keterpisahan unit usaha ini dalam banyak hal menimbulkan inefisiensi. Published by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini – pabrik gula mini dot com

Petani Tebu Kuatirkan Harga Gula akan Turun

Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) mulai merasa galau belakangan ini. Mereka khawatir harga gula petani turun pada kuartal II tahun ini. Kekhawatiran tersebut menyusul beroperasinya tiga pabrik gula rafinasi yang baru berdiri. Arum Sabil, Ketua Umum APTRI PTPN XI mengatakan, ada tiga pabrik gula rafinasi baru yang akan beroperasi, yakni PT Berkah Manis Makmur (Banten), PT Andalan Purindo (DKI Jakarta) dan PT Medan Sugar Industri (Medan).

“Keberadaan mereka ini yang akan merusak harga gula petani,” ujar Arum seperti dilansir Tribunnews dari KONTAN, Selasa (12/2). Padahal kata Arum, pada 2012 lalu harga gula petani mulai membaik ketimbang 2011. Jika pada 2011, harga rata-rata lelang gula adalah Rp 8.191 per kilogram, maka untuk 2012 harga lelang gula mencapai Rp 9.707.

Merujuk pada data Dewan Gula Indonesia (DGI), harga rata-rata lelang gula petani tertinggi terjadi Juni 2012 yakni mencapai Rp 10.595 per kilogram. Sedangkan harga terendah pada bulan Januari 2012 sebesar Rp 8.150 per kilogram. Pada Desember 2012, harga lelang gula sebesar Rp 9.707 per kilogram.

“Per Januari ini, harga lelang gula ada pada kisaran Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kilogram,” kata Arum. Arum berharap, harga lelang gula petani tahun ini sama dengan tahun lalu. Re-posted by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini.

PTP X BERIKAN TRAINING MEKANISASI PERTANIAN

Untuk mempercepat pertumbuhan perekonomian khususnya di Wilayah Madura, PT Perkebunan Nusantara X (Persero) memberikan pelatihan kepada 40 orang petani tebu. Pelatihan tersebut adalah pelatihan keterampilan petani untuk mengolah kebun dengan sistem mekanikasasi.

Kepala Bidang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PTPN X, Wasis Pramono mengungkapkan, pemberian pelatihan keterampilan kepada petani tebu merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh perusahaan. Namun, untuk petani tebu asal Madura, khususnya Bangkalan dan Sampang, kegiatan ini merupakan kegiatan kali pertama.

“Pelatihan ini digelar untuk mendukung program perusahaan dalam upaya membangun Madura sebagai pengembangan industri gula ke depan,” terang Wasis kala ditemui di kantor direksi PTPN X Surabaya.

Wasis menjelaskan ke-40 orang petani tebu asal Madura tersebut mendapatkan pelatihan mekanisasi bersama puluhan orang petani tebu asal Jawa Timur. Selama tiga hari, mereka mendapatkan pelatihan mengenai bagaimana mengolah lahan dengan menggunakan traktor guna mempercepat proses pengolahan lahan sebelum ditanami.

“Mereka mendapatkan pelatihan teori dan praktek yang dilakukan di lahan PG Djombang Baru tepatnya di Desa Kabuh, Kecamatan Kabuh, Jombang,” tuturnya.

Masih menurut Wasis, pelatihan yang dihelat Desember ini, akan digelar ulang tahun 2013 dengan mengundang para petani tebu yang belum pernah mendapatkan pelatihan. Hal ini diharapkan agar petani dapat mengerjakan lahan mereka tanpa bergantung kepada tenaga kerja yang semakin sulit diperoleh. sumber BUMN, Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini