Prospek Industri Gula di Madura

Industrialisasi gula di Pulau Madura mempunyai prospek cerah. Banyak lahan di pulau tersebut yang bisa dikembangkan menjadi perkebunan tebu. Selain dikenal sebagai Pulau Garam, jika sektor pertebuan terus didorong dengan baik, Madura juga akan menjadi Pulau Gula.

Direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Aris Toharisman mengatakan, selama ini Madura memang dikenal sebagai penghasil garam. Pulau ini seringkali diasosiasikan sebagai wilayah panas dan terik, dan hanya cocok untuk membuat garam dari air laut yang dikeringkan. Pandangan seperti itu tidak sepenuhnya benar, karena kenyataannya Madura menyimpan potensi besar sebagai penghasil gula.

“Kajian yang dilakukan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) memberikan fakta menarik. Sekitar 250.000 hektar lahan di Madura relatif sesuai untuk perkebunan tebu, dan bisa menghasilkan tebu antara 60-90 ton per hektar,” kata Aris dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (27/1).

Potensi area seluas 250.000 hektar itu bisa mendukung pasokan tebu untuk pembangunan 10 pabrik gula (PG) baru masing-masing dengan kapasitas giling 10.000 ton tebu per hari (TCD/ton cane per day). Sebagai pembanding, area tebu di Jawa Timur saat ini sekitar 200.000 hektar dengan 31 PG yang menghasilkan gula sekitar 1,2 juta ton per tahun.

Aris menambahkan, potensi area tebu yang sangat masif di Madura, selain bisa menjadi tumpuan produksi gula, juga sangat prospektif dikelola sebagai industri gula terpadu. Pabrik gula dapat diintegrasikan dalam sebuah kompleks industri berbasis tebu seperti bioetanol, listrik, kertas, pakan ternak, pupuk organik, dan produk-produk komersial lainnya.

“Integrasi semacam itu sulit dilakukan di Jawa mengingat rata-rata kapasitas giling PG di Jawa hanya 3.500 TCD, sehingga hilirisasi produk turunan tebu sulit memenuhi skala keekonomian,” jelas Aris.

Saat ini, area tebu di Madura baru mencapai sekitar 1.500 hektar yang terkonsentrasi sebagian besar di Sampang dan Bangkalan. Tahun 2014 area tebu kemungkinan meningkat menjadi 4.000 hektar, seiring dengan program pengembangan area yang didanai APBN. Dua tahun berikutnya ketika sebuah PG baru mulai dibangun di Madura, area tebu diperkirakan mencapai 10.000 hektar.

Bila dibanding dengan potensi area tebu lainnya di luar Jawa, Madura jauh lebih menjanjikan. Infrastruktur tersedia sangat memadai. Jalan, jembatan, pelabuhan, jaringan listrik dan komunikasi tinggal pakai. Tenaga kerja juga cukup tersedia.

Kondisi tersebut, kata Aris, jauh berbeda dengan lokasi lain seperti Merauke yang juga dari sisi lahan sangat potensial untuk pengembangan tebu. Merauke sebelumnya sempat banyak diwacanakan sebagai daerah pengembangan tebu oleh pemerintah.

“Di Merauke infrastruktur dan tenaga kerja di sektor pertanian sangat terbatas. Saat musim hujan, pengendara motor harus berjibaku dalam kubangan lumpur untuk bisa menempuh lokasi kebun. Mobil bahkan sulit bergerak maju. Belum lagi masyarakat di sana sebagian besar belum terbiasa bergelut di pertanian tanaman semusim,” tuturnya.

Aris menambahkan, pengembangan tebu di Madura memang tidak mudah dan menghadapi berbagai tantangan. Pertama, budidaya tebu masih relatif baru bagi sebagian besar petani, sehingga butuh sosialisasi dan transfer teknologi yang sungguh-sungguh agar tingkat keberhasilannya tinggi.

Kedua, petani Madura terbiasa dengan tanaman pangan atau tanaman semusim berumur pendek, yang hasilnya bisa segera dijual. Ini berbeda dengan tebu, karena petani harus bekerjasama dengan PG dalam menggiling tebu menjadi gula dan perlu waktu minimal setahun sejak tanam hingga hasilnya bisa dinikmati.

Ketiga, rasa memiliki orang Madura relatif tinggi yang tecermin dalam pengelolaan lahan. Kadangkala sulit membongkar pembatas di antara lahan-lahan yang berbeda kepemilikan, walaupun sekadar untuk kebutuhan saluran drainase.

“Tantangan tersebut perlahan sudah bisa dikelola menjadi peluang. Buktinya, kini makin banyak investor yang melirik Madura sebagai penghasil gula. Area tebu di Madura pun terus bertambah. Madura bagaikan gula yang memikat banyak semut. Jangan heran bila kelak persepsi anak cucu kita tentang Madura berbeda dengan orangtuanya. Madura bukan hanya penghasil garam, tetap menjadi lumbung gula terbesar di Indonesia,” pungkas Aris.

Pabrik Gula Kwala Madu di Binjai

Kabupaten Langkat patut berbangga dan berbesar hati karena menjadi satu diantara daerah yang memiliki pabrik gula yakni Kwala Madu, keberadaan tersebut merupakan bagian dalam mendukung program Pemerintah menuju tercapainya Swasembada Gula Nasional. Hal ini dikatakan Bupati Langkat H. Ngogesa Sitepu, SH pada acara Peresmian Giling Tebu Perdana tahun 2013 di halaman Kantor pabrik gula Kwala Madu.

Bupati Haji Ngogesa menjelaskan bahwa keberadaan pabrik gula Kwala Madu telah mampu memberikan efek positif bagi peningkatan hasil panen masyarakat khususnya masyarakat Desa Sidomulyo, Sambirejo dan Sendangrejo Kecamatan Binjai Langkat atas pemanfaatan sirkulasi air kondensor yang mengairi sawah petani kurang lebih mencapai 1.250 Ha, selain itu pabrik gula kwala madu juga malibatkan pemanfaatan tenaga kerja masyarakat lokal.

Lebih lanjut kata Bupati Langkat itu Pemkab Langkat tetap berharap agar mulai saat itu dan kedepan keberadaan pabrik gula Kwala Madu tetap meningkatkan dan memberikan rasa kepedulian sosialnya ikut membangun kesejahteraan khususnya masyarakat Langkat. “Kami yakin dengan semangat kemitraan yang dimiliki PTPN II, pabrik gula Kwala Madu akan memberikan berkah terhadap keberhasilan peningkatan hasil produktivitas pabrik” ujarnya.

Komisaris Utama PTPN II Ato Suprapto mengajak semua pihak untuk dapat meningkatkan hasil produksi gula yang dihasilkan kedepan sebagai modal untuk mempertahankan program Pemerintah tahun 2013 yaitu swasembada gula khususnya di Sumatera Utara dan Langkat.

Sementara itu Dirut PTPN2 Ir. Bharata Moeda Nasution menyampaikan rasa terima kasih kepada Bupati Langkat atas kepedulian dan perhatian sehingga ditengah kesibukan berkenan meluangkan waktu untuk hadir dalam kegiatan tersebut, atas kepedulian Bupati Haji Ngogesa pihaknya memberikan penghargaan. Kepada para karyawan dirinya meminta untuk memberhasilkan musim giling tebu tahun ini yang akan membawa dampak baik bagi masyarakat Langkat.

Sebagai wujud rasa syukur acara diakhiri dengan pemberian santunan kepada anak yatim dilanjutkan dengan pelemparan tebu temanten pabrik pengolahan. Hadir dalam acara Asisten Pemerintahan Abdul Karim, Staf Ahli Bupati Eddy Dharma Tarigan, Kabag Humas Rizal G. Gultom, Sejumlah SKPD dijajaran Pemkab Langkat, unsur Muspika serta Kepala Desa se-Kecamatan Binjai. re-posted by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini

PTPN 12 AKAN MENANAM TEBU

PTPN 12 Wilayah 2 Jember tetap ngotot untuk menanam tebu di areal Lapangan Terbang (Lapter) Notohadinegoro. Alasannya, penanaman akan dilakukan sampai lapter beroperasional.

Meskipun Komisi C DPRD Jember meminta agar PTPN membabat tanaman tebu yang ada di areal lapter.

Manajer PTPN 12 wilayah 2 Jember Irsan Rambee menyatakan, pihak PTPN 12 enggan untuk menebang tanaman tebu, karena lapter masih belum beroperasi. Jika nanti lapter akan beroperasi, maka pihaknya siap untuk menebangnya.

Ia katakan, tanaman tebu memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga, sebagai pemilik sangat manusiawi jika pihaknya keberatan dengan pembabatan tanaman itu. Apalagi Lapter Notohadinegoro masih belum akan beroperasi, sehingga keberadaan tanaman itu tidak akan mengganggu.

“Tapi jika lapter akan dioperasikan lagi, kami siap untuk menebangnya,” ujarnya.

Sementara, sejumlah fraksi di DPRD Jember mendorong pembentukan Panitia Khusus (Pansus) terkait persoalan Lapter Notohadinegoro.

Beberapa fraksi yang menyerukan pembentukan pansus itu, yakni Fraksi Demokrasi Perjuangan Indonesia Raya dan Fraksi Kebangkitan Nasional Ulama.

Ketua Fraksi Kebangkitan Nasional Ulama DPRD Jember, Marduwan menyatakan, fraksinya sepakat jika persoalan penanaman tebu di areal lapter itu di pansuskan. Pasalnya, selama ini tidak ada pendapatan yang masuk ke Kas Daerah atas penanaman itu.

Namun demikian di dalam pansus nantinya, FKNU berharap persoalan status lahan dapat menjadi terang. “Karena ini biar jelas, status lahan itu, tidak seperti saat ini, sama-sama merasa memiliki,” katanya.

Ketua Fraksi Demokrasi Perjuangan Indonesia Raya DPRD Jember, Bukri menjelaskan, fraksinya berpandangan jika persoalan status lahan lapter itu harus dikuak.

Dia berpandangan bahwa persoalan penanaman tebu hanyalah sekelumit masalah dari persoalan lahan. Dia berharap nantinya jika di pansuskan, maka persoalan HGU atas tanah lapter dapat segera diselesaikan. Re-Published by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini.