SWA SEMBADA GULA 2014 MIMPI YANG DIHARAPKAN

Seorang pemimpi sering sering membayangkan mendapat hadiah mobil baru dari gebyar sebuah bank, meskipun dia tidak punya rekening di Bank tersebut, seorang pemimpi membayangkan akan menikahi wanita yang sangat cantik dari hadiah undian diluar negeri meskipun dia tidak pernah tahu beli kuponnya dimana, itulah seorang pemimpi dan adalah hak semua insan untuk bermimpi – semua memang berawal dari mimpi dan impian akan terwujud apabila kita berusaha memenuhinya di jalur mimpi yang kita mimpikan, bagaimana seorang mimpi menjadi dokter kalau kuliahnya dibidang ekonomi, bagaimana berminpi menjadi insinyur kalau kulihnya dibidang hukum.
Saya lebih senang dengan menggunakan bahasa mimpi dan impian , sementara cendekiawan dan politisi menggunakan istilah wacana tanpa rencana, inilah gambaran  mimpi indah yang sempat memukau segenap rakyat Indonesia:
Tahun
Pejabat
Target Swa Sembada
Kebijakan
2003
Rini Suwandhi
Memperindag
2007
Target swa sembada gula
06/06/03
KOMPAS
28/07/04
S Harapan
Bungaran Saragih
Menteri Pertanian
Bungaran Saragih
Menteri Pertanian
2007
2008
Tidak perlu pabrik baru
Perluasan areal sd 400.000 ha.
Mundur dari target awal 2007
29/7/04
S Harapan
Megawati
Presiden
2008
Mundur dari target awal 2007
28/10/05
Suar merr
Anton Apriantono
Menteri Pertanian
2009
Pembangunan pabrik baru
02/07/07
29/08/07
Antara
05/09/07
Antara
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
Ahmad Manggabarani
Dirjenbun
2009
2009
2009
Dibentuk TKPPG 1 juta ton pada
Tahun 2009
9 pabrik akan beroperasi 2009
4 milik BUMN yg lain swasta
Pabrik baru Jatim, Kalbar,Sumbar
2 lagi di Sulsel.
26/06/07
Anttara
Agus Pakpahan
Deputy Meneg BUMN
2009
4 PG baru 2009
28/07/07
Fahmi Idris
Menteri Perindustrian
Membangun Pabrik Gula Merah Putih (karya nasional).
19/01/08
Liputan 6
Yusuf Kalla
Wapres
2009
Menaikkan rendemen 2%
Revitalisasi pabrik lama dan tambah pabrik baru.

Semua diatas adalah mimpi mimpi indah tetapi harus berani menempuh jalan berliku untuk mencapainya, mimpi terakhir adalah “SWA SEMBADA GULA 2014”  yang kabarnya Departemen terkait sudah saling membuat dan menyusun Road Map untuk mencapainya, meskipun dapat diduga apabila di anggap rakyat adalah penonton , sudah bia menduga bahwa para pembuat mimpi akan lempar handuk.

Scenario pemimpi.
1. Membangun pabrik baru minimal 150.000 tcd.
Mungkin para pendahulu tidak pernah menceritakan bagaimana pabrik baru yang direncanakan oleh pakar pakar dan direalisasikan antara lain cot girek di Aceh , pelaihari di Kalimantan  keduanya mengalami ending yang menyedihkan, sementara beberapa lainnya menunjukkan performance yang menyedihkan.
2.Revitalisasi .
Dana revitalisasi tak kunjung turun kelihatan ada keraguan benarkah revitalisasi adalah obat manjur menuju swa sembada setelah  dilakukan program bongkar ratoon untuk perbaikan tanaman?
Pabrik kita memang tua tetapi kalau kita lihat laporan giling dari pol ampas, pol blotong dan angka angka pengenal lainnya semua baik-baik saja tidak ada yang salah .
SWA SEMBADA GULA INSYA ALLAH TERCAPAI
Dua kunci keberhasilan untuk menuju swa sembada gula:
1.Kunci Non Teknis
    a. KERJA KERAS ( kalau meneg BUMN KERJA, KERJA, KERJA)
    b. JUJUR.
    c. AMANAH.
2.Kunci teknis
Banyak kunci kunci teknis menuju keberhasilan swa sembada gula, tidak terlalu penting penambahan areal tanaman, tidak terlalu mendesak pabrik besar baru , dahulukan satu kunci yaitu:   “PERHATIKAN PETANI TEBU”
Kalau petani tebu karena alasan ekonomis mendapat keuntungan dan kenyamanan  dari budi daya menanam tebu maka pabrik gula tidak akan kekurangan pasokan tebu, kemitraan yang sesungguhnya adalah kejujuran dan transparansi, petani tebu adalah subyek dan bukan obyek, perkara teknisnya tentu para pemimpin tidak perlu diajari ibarat tidak perlu kita ajari bebek berenang – tidak perlu kita ajari tokek memanjat dinding.
AlternatifTidak ada salahnya untuk mencoba mengembangkan Pabrik Gula Mini, seperti yang telah dibuat juklak teknisnya untuk membangun satu unit kap 100 tcd di Rembang Jawa tengah.Perlunya pemikiran pengembangan bahan pemanis lain selain gula yang cukup potensal di Indonesia antara lain dari nira aren, kelapa dan siwalan.sumber: pabrikgulamini.blogspot.com Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini

PENGHITUNGAN NERACA GULA INDONESIA, SEHARUSNYA INDEPENDEN

Perhitungan neraca gula pada 2012 perlu dihitung serius dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia meminta agar perhitungan ini dapat dilakukan oleh surveyor independen.

Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur,  dengan perhitungan serius maka diharapkan hitungan neraca gula bisa diperoleh dengan akurat.

“Kedepan kita ingin ada hitungan neraca gula yang akurat, selama ini neraca gula dihitung berdasarkan laporan produsen, perhitungan konvensional, perhitungan tidak dinamis,” ujarnya, Kamis (6/9/2012).

Bahkan, lanjutnya, perhitungan  gula yang sarat dengan kepentingan sektoral, apalagi saat ini pengantian musim yang berubah-ubah.

Oleh karenan itu, dia menambahkan penghitungan neraca gula dapat dilakukan oleh surveyor independen.

Natsir menjelaskan permasalahan gula nasional saat ini semakin ruwet karena diakibatkan tidak seimbangnya produksi dan konsumsi, sehingga berdampak kepada perdagangan dan distribusi gula.

Target produksi gula nasional tercatat sekitar 2,7 juta ton, tapi produksi hanya 2,1 juta ton atau hanya dapat dapat dinikmati oleh 175 juta penduduk Indonesia dengan perhitungan konsumsi gula 12 kg per. kapita per tahun.

Natsir mempertanyakan penduduk Indonesia yang sebanyak 240 juta orang mulai dari Sabang sampai Merauke, berarti ada 65 juta penduduk Indonesia yang tidak mendapat distribusi gula,” papar Natsir.

Menurutnya, produksi gula oleh produsen gula yang sebesar 2,1 juta hanya mampu dikonsumsi penduduk di Jawa saja, sementara daerah luar Jawa sulit mendapat distribusi gula.

Karut marut pergulaan nasional dewasa ini perlu serius dibenahi dengan kondisi produksi sedikit tapi permintaan yang banyak, sehingga perlu mendapat perhatian.

Natsir menyebutkan, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembenahan gula nasional antara lain pertama, karena produksi gula kristal putih (GKP) kurang maka perlu diatur perdagangan dan distribusinya,

“Daerah yang sulit mendapat distribusi gula komsumsi diberikan kesempatan untuk mengimpor. Kedua, kebutuhan  gula kristal rafinasi agar dihitung ulang terkait industri makanan dan minuman yang mengunakan,” tuturnya.