Panen Tebu di Jogjakarta Meningkat 30 Persen

Hasil panenan tebu di wilayah Provinsi DIY sepanjang 2012 lalu, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pada 2012, rata-rata produksi mencapai 660 kuintal per hektar. Sedangkan tahun 2011 sebesar 525 kuintal.

“Ada kenaikan sekitar 30 persen. Peningkatan ini karena kondisi iklim yang mendukung,” ungkap Direktur Pabrik Gula Madukismo, Rahmad Edi Cahyono disela kunjungan ke lahan tebu Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kalasan, Kamis (17/1).

Untuk masa tanam kali ini, pihaknya meminta petani waspada terhadap serangan hama uret. Apalagi jika musim hujan masih terus berlangsung sampai bulan April.

Kepala Dinas Kehutanan DIY, Muhammad Dawam menyebutkan, saat di Sleman terdapat 1.300 hektar luasan lahan tebu tersebar di beberapa kecamatan.

Lahan paling luas ada di Kecamatan Kalasan yakni 210 hektar, disusul Godean 140 hektar. Area itu masih berpotensi ditambah, terutama pada lahan yang kurang produktif untuk ditanami padi.

Dalam kunjungan itu, Direktur PG Madukismo dan Kepala Dinas Kehutanan mendampingi Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam IX. Ikut serta pula Bupati Sleman, Sri Purnomo, dan Camat Kalasan, Samsul Bahri.

Selain Kedulan, Wagub juga mengunjungi lokasi penanaman tebu di Dusun Grenjeng, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan. Dalam kesempatan tatap muka dengan petani, Paku Alam meminta mereka lebih giat menggarap perkebunan tebu.

Mengingat, hasil dari komoditi ini mampu membawa kesejahteraan lebih baik bagi petani.

“Nilai dari perkebunan tebu lebih besar dibanding dengan budidaya komoditas lain yang hampir serupa,” katanya.

Kepala Desa Tirtomartani, Sriyanto sekaligus ketua kelompok petani tebu Ngudi Rejeki memaparkan, kelompoknya kini mengelola area tebu seluas 25 hektar yang sebagian merupakan tanah kas desa.

Lahan digarap oleh 15 orang anggota. Hasil dari kegiatan perkebunan ini diakui cukup lumayan. Gambarannya, selama satu musim tanam dapat menghasilkan keuntungan Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. -Suara Merdeka- Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini

Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia, Siap Supply IKM

Pengusaha gula rafinasi dalam negeri berkomitmen memasok kebutuhan gula rafinasi bagi industri kecil dan menengah (IKM) di bidang pangan yang diperkirakan mencapai 300.000 ton pada tahun ini. Suryo Alam, Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), mengatakan kebutuhan gula rafinasi dari IKM pangan terus meningkat dalam tiga tahun terakhir dengan catatan konsumsi pada 2010 mencapai 240.000 ton. “Kenaikannya sampai 40%, komitmen ini diwujudkan untuk meningkatkan kualitas produk IKM pangan agar semakin berkualitas,” katanya pada acara penandatanganan Mou antara AGRI dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Wenang di Kementerian Perindustrian, Jumat (18/1/2013). Dia menjelaskan kerja sama ini dapat meningkatkan kualitas produk IKM pangan baik di pasar domestik maupun ekspor dan memenuhi kebutuhan gula rafinasi yang selama ini sulit didapatkan. Menurutnya, penggunaan bahan baku gula yang berkualitas sangat penting dalam menentukan kualitas produk olahan makanan yang diproduksi IKM mulai dari warna, bentuk, daya tahan, hingga rasa. Euis Saedah, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian, mengatakan jumlah IKM pangan saat ini mencapai 1,5 juta unit dan mendominasi jumlah keseluruhan IKM di Tanah Air yakni sebanyak 3,8 juta unit. “Pertumbuhannya [IKM Pangan] mencapai rata-rata 16% per tahun, atau di atas rata-rata IKM secara umum sekitar 10%,” ujarnya. Dia mengharapkan penandatangan kerja sama KUD Wenang dan AGRI dapat memicu daya saing produk IKM pangan domestik khususnya dalam menghadapi perdagangan bebas Asean pada 2015. Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini

Pamekasan: Tebu Pengganti Tembakau

Terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan yang diyakini bakal mematikan keberadaan petani tembakau, telah menjadi perhatian serius Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Agar petani tidak kehilangan mata pencaharian, Dishutbun mulai mengenalkan komoditas alternatif pengganti tembakau, yaitu tebu.

Langkah pertaman yang sebagai percontohan, pemerintah telah menanam tebu diatas lahan 3 hektar di wilayah Kecamatan Proppo.

Kepala Dishutbun Pamekasan, Ajib Abdulah, mengatakan, tanaman tebu lebih menjanjikan hasil yang maksimal dibandingkan tembakau.

Petani pun tidak perlu khawatir soal pemasaran karena tebu yang dihasilkan langsung dibeli oleh PT Perkebunan Nusantara X (Persero) yang akan membangun pabrik pengolahan tebu di Kabupaten Bangkalan.

“Untuk tahap pertama, kami mulai menanam tebu diatas lahan seluas 30 hektar di wilayah Kecamatan Proppo. Selanjutnya, kami masih meneliti wilayah kecamatan lain yang tanahnya cocok untuk tebu. Kedepan, komoditas tebu bakal menjadi pilihan setelah terbitnya PP Tembakau,” papar Ajib, Jumat (17/01/2013).

Pengenalan tebu sebagai komoditas alternatif tembakau, didukung sepenuhnya oleh Ketua Komisi B DPRD Pamekaksan, Hosnan Ahmadi. Politisi PAN itu, mengatakan, untuk jangka panjang komotitas tebu bisa menjadi andalan setelah tembakau. “Syukur-syukur, tebu telah memiliki pasar tersendiri. Yakni pabrik gula yang dikelola PTPN X,” ujarnya.

Dukungan lainnya datang dari Ketua Gabungan Pengusahan Rokok Madura (gaperma), Khairul Amam. Dia menilai saat ini tembakau sudah tidak bisa diandalkan. Harga jual tembakau selalu anjlok karena setiap tahun produksinya melebihi kebutuhan pabrik rokok. “Sudah saatnya, pemerintah mengenalkan komoditas alternatif selain tembakau kepada petani di Madura,” ujarnya. – Lensa Indonesia Update Oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini