MOU SOAL PASOKAN GULA RAFINASI

Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), hari ini, Kamis (22/11/2012) tandatangani nota kesepakatan dengan Koperasi Serba Usaha (KSU) Nusantara Semarang dan Koperasi Wijaya Mulyo Jepara soal penyaluran gula rafinasi.
Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Suryo Alam mengatakan kesepakatan penyaluran gula rafinasi itu diharapkan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Makanan dan Minuman semakin mudah memperoleh pasokan gula rafinasi.
“Industri Kecil Menengah Makanan dan Minuman di Jateng jadi makin mudah memperoleh pasokan gula rafinasi untuk keperluan bahan baku industrinya melalui sejumlah koperasi di provinsi ini,” katanya, Kamis (22/11/2012).
Menurutnya, ini jalinan kemitraan antara AGRI dengan koperasi dalam penyaluran gula rafinasi kepada pelaku industri makanan minuman skala kecil dan menengah yang kedua setelah Jawa Barat. Kemudian akan dilanjutkan di Yogyakarta, Banten, dan Lampung.
Kemitraan ini dapat memotong rantai penyaluran antara dua hingga tiga jalur rantai penyaluran gula rafinasi ke IKM, sekaligus menekan potensi kerugian IKM akibat permainan distributor nakal dalam penyediaan rafinasi.
“Dengan kemitraan langsung antara AGRI dan IKM melalui koperasi, maka harga gula rafinasi yang diterima IKM akan berada di bawah harga jalur distribusi biasanya, bisa selisih sekitar Rp800-Rp1.000 per kilogram, serta pasokan barang yang lebih terjamin,” tuturnya.
Dia menjamin setiap makanan dan minuman hasil olahan dengan menggunakan gula rafinasi hasilnya akan lebih baik dari pada gula biasa, karena sudah memiliki kualitas  Standar Nasional  Indonesia (SNI), serta sertifikat ISO:9001 untuk kualitas mutu.

68% GULA DI SUMUT adalah GULA IMPOR

Total produksi gula dari pabrik yang beroperasi di Provinsi Sumatra Utara hanya mampu memenuhi sekitar 32% dari  jumlah kebutuhan masyarakat, sisanya sekitar 68% dipasok dari luar daerah dan luar negeri.

Konsumsi gula masyarakat, baik untuk kebutuhan industri, maupun rumah tangga, yang sebagian besar didatangkan dari kegiatan impor, sehingga harga gula di Sumut sangat fluktuatif dan sensitif terhadap produksi dan harga di pasar internasional.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumut, produksi gula yang dihasilkan pabrik-pabrik gula di provinsi ini mencapai  47.122 ton, sedangkan kebutuhan gula di Sumut rata-rata sebanyak 144.323 ton per tahun.

“Sampai saat ini produksi dari pabrik-pabrik gula di Sumut hanya mampu memenuhi 32% dari kebutuhan konsumsi gula masyarakat Sumut,” ujar Kepala Dinas Perkebunan Sumut Aspan Sofian, Kami (22/11).

Dia mengemukakan produksi gula Sumut masih kalah jika dibandingkan dengan produksi Provinsi Jawa Timur dan Lampung. Dari total produksi gula Indonesia yang mencapai 2,66 juta ton, Sumatra Utara hanya menyumbang 1,56%.

Aspan Sofian juga membenarkan pada saat ini Sumut masih harus mendatangkan gula lewat perdagangan Gula Antarpulau Terbatas (PGAT), yakni dari Lampung, Jawa Timur, dan daerah lain guna memenuhi kebutuhan lokal.

“Kendala yang kami hadapi dalam meningkatkan produksi gula adalah terbatasnya areal pencadangan tebu PTPN II yang hanya seluas 11.790 hektare [Kabupaten Deli Serdang dan Langkat],” jelasnya.

Padahal, paparnya, untuk dapat mencapai target produksi yang cukup memenuhi kebutuhan gula semua penduduk di provinsi  ini atau swasembada, setidaknya tersedia areal tebu seluas 42.860  hektare.
Untuk meningkatkan produksi gula Sumut, ujarnya, Dinas Perkebunan dan sejumlah lembaga lain sedang menjalankan sejumlah program, seperti peningkatan luas tanam tebu dan program peningkatan produktivitas lain.

“Peningkatan produktivitas tebu ini akan terus kami pacu untuk mendukung program pencapaian swasembada gula nasional pada 2014 dan menuju modernisasi industri gula berbasis tebu sampai dengan tahun 2025,” tambahnya.

Produksi gula Sumut pada saat ini berasal dari dua pabrik gula milik PTPN II, yakni pabrik gula Sei Semayang  di Kabupaten Deli Serdang dan pabrik gula Kuala Madu di  Kabupaten Langkat dengan kapasitas masing-masing 4.000 TCD. update oleh: Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini.

KONSUMSI GULA INDUSTRI AKAN NAIK 8% TAHUN 2013

Kebutuhan gula untuk industri makanan dan minuman pada tahun depan diproyeksi mencapai 2,7 juta ton atau naik 8% dari kebutuhan tahun ini seiring pertumbuhan industri tersebut.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan jumlah industri makanan dan minuman pada 2013 akan bertambah seiring rencana investasi dari Jepang dan Eropa.

“Industri bertambah, kebutuhan gula juga meningkat,” katanya seusai kegiatan Indonesia Sugar Congress di Jakarta, Selasa (6/11/2012).

Investor Jepang akan membuka dua pabrik di Indonesia, yakni pabrik permen dan pabrik makanan ringan (snack) tahun depan. Sementara, investor dari Eropa belum menyebutkan produk yang akan dibuat di Indonesia.

Adhi juga mengaku belum mengetahui nilai investasi masing-masing penanam modal.

Sebelumnya, perusahaan minuman asal Negeri Matahari Terbit, Suntory, bekerjasama dengan Garuda Food memproduksi minuman bermerek Mirai Ocha tahun ini.

Kerjasama serupa juga dilakukan Asahi Group Holding Southeast Plt Ltd dengan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk memproduksi Pepsi.

Dari 2,7 juta ton konsumsi gula, tutur Adhi, sebanyak 380.000 ton gula akan diserap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), sedangkan selebihnya diserap industri besar.

Pihaknya mengapresiasi langkah pemerintah yang menambah alokasi impor raw sugar untuk gula industri (rafinasi) sebanyak 250.000 ton. Updated by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini .